Bahagian pertama sifat Nafsiyah: Wujud, artinya ada, yang ada itu Zat Allah Ta’ala, lawannya ‘Adum, artinya tiada yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu tiada karena jikalau Allah Ta’ala itu tiada niscaya tiadalah ada alam ini, alam ini jadilah dengan sendirinya. Jikalau alam ini jadi dengan sendirinya niscaya jadilah bersamaan pada suatu pekerjaan atau berat salah satu, maka sekarang alam ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan teratur serta tersusun segala pekerjaannya maka menerimalah aqal kita wajib adanya Allah Ta’ala dan mustahil lawannya tiada. Adapun dalilnya yaitu firmannya dalam Al Qur’an: -Allahu kholiqu kullu syai’in-, artinya, Allah Ta’ala jualah yang menjadikan tiap-tiap sesuatu.Adapun Wujud itu sifat Nafsiyah, Ada itulah diriNya haq Ta’ala. Adapun ta’rif sifat nafsiyah itu: Hiya huwa wala hiya ghoiruhu, artinya, sifat inilah Zat Haq Ta’ala, tiada Dia lain daripadaNya yakni -Sifat pada lafadz Zat pada makna. Adapun Hakikat sifat nafsiyah itu : Hiyalhalulwajibatu lizzati maadaamati azzatu ghoiru mu’alalahi bi’illati, artinya, hal yang wajib bagi Zat selama ada Zat itu tiada dikarenakan dengan suatu karena yakni: 1-AdaNya itu tiada karena jadi oleh sesuatu. 2-Tiada Dia terjadi dengan sendiriNya. 3-Tiada Dia menjadikan diriNya sendiri. 4-Tiada Dia berjadi-jadian.Adapun Wujud itu dikatakan sifat Nafsiyah karena Wujud menunjukkan sebenar-benar diriNya Zat, tiada lainNya dan tiada boleh dipisahkan Wujud itu lain daripada Zat seperti sifat yang lain-lain.

Adapun Wujud itu tiga bahagi:1-Wujud Haqiqi, yaitu Zat Allah Ta’ala maka wujud-Nya itu tiada permulaan dan tiada kesudahan maka wujud itu bersifat Qadim dan Baqa’, inilah wujud sebenarnya. 2-Wujud Mujazi, yaitu zat segala makhluk maka wujudnya itu ada permulaan dan ada kesudahan tiada bersifat Qadim dan Baqa’, sebab wujudnya itu dinamakan wujud Mujazi karena wujudnya itu bersandarkan Qudrat dan Iradat Allah Ta’ala. 3-Wujud ‘Ardy, yaitu zat ‘Arodul wujud maka wujudnya itu ada permulaan dan tiada kesudahan seperti ruh, syurga, neraka, Arasy, Kursyi dan lain-lain. Adapun yang Mawujud selain Allah Ta’ala dua bahagi: 1-Mawujud dalam ‘alam syahadah, yaitu yang di dapat dengan khawas yang lima seperti langit, bumi, kayu, manusia, binatang dan lain-lain. 2-Mawujud didalam ‘alam ghaib yang tiada didapat dengan khawas yang lima tetapi didapat dengan nur iman dan Kasaf kepada siapa-siapa yang dikaruniakan Allah Ta’ala seperti Malaikat, Jin, Syaitan, Nur dan lain-lain. Adapun segala yang Mawujud itu lima tempat: 1-Mawujud pada Zihin yaitu ada pada ‘aqal.
2-Mawujud pada Ghorij yaitu ada kenyataan bekas. 3-Mawujud pada Khayal yaitu seperti bayang-bayang dalam air atau yang didalam mimpi. 4-Mawujud pada Dalil yaitu ada pada dalil seperti asap tanda ada api.5-Mawujud pada Ma’rifat yaitu dengan pengenalan yang putus tiada dapat diselingi lagi terus Dia Ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Sekarang kita masuk membicarakan Wujud-Nya dengan jalan dalil: 1-Dalil yang didapat dari Khawas yang lima tiada dapat didustakan. 2-Dalil yang didapat dari Khabar Mutawatir tiada dapat didustakan. 3-Dalil yang didapat daripada ‘Aqal tiada dapat didustakan. 4-Dalil yang didapat daripada Rasulullah tiada dapat didustakan. 5-Dalil yang didapat daripada firman Allah Ta’ala tiada dapat didustakan.

Bahagian kedua sifat Salbiyah: Adapun hakikat sifat Salbiyah itu: -wahiya dallat ‘alallafiy maalaa khaliyqu billahi ‘aza wajalla-, artinya barang yang menunjukkan atas menafikan apa-apa yang tiada patut dan tiada layak pada dzat, pada sifat dan pada af’al Allah Ta’ala yaitu lima sifat: 1-QIDAM, artinya Sedia, Adapun hakikat Qidam ibarat dari menafikan ada permulaan bagi Wujud-Nya yakni tiada permulaan lawannya Hudusy artinya baharu yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan Dia baharu karena jikalau Dia baharu niscaya jadilah Wujud-Nya itu wujud yang harus, tiadalah Dia Wajibalwujud, sekarang telah terdahulu Wajibalwujud bagiNya maka menerimalah aqal kita wajib bagiNya bersifat Qadim dan mustahil lawannya baharu , adapun dalilnya firmannya dalam Al Qur’an: -huwal awwalu-, artinya Dia juga yang awal. Adapun Qadim nisbah pada nama empat perkara: 1-Qadim Hanafi, yaitu Zat Allah Ta’ala. 2-Qadim Sifati, yaitu sifat Allat Ta’ala. 3-Qadim Idofi, yaitu Qadim yang bersandar seperti dahulu bapa daripada anak. 4-Qadim Zamani, yaitu masa yang telah lalu sekurang-kurangnnya setahun

2-BAQA’ artinya Kekal, Adapun hakikat Baqa’ itu ibarat menafikan ada kesudahan bagi Wujud-Nya yakni tiada kesudahan, lawannya Fana’ artinya binasa yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia binasa, jikalau Dia binasa jadilah Wujud-Nya itu wujud yang baharu, apabila Dia baharu tiadalah Dia bersifat Qadim, sekarang telah terdahulu bagi-Nya wajib bersifat Qadim maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Baqa dan mustahil lawannya binasa, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wayabqo wajhu robbikauzuljalali wal ikrom, artinya kekal Zat Tuhan kamu yang mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan. Adapun yang Kekal itu dua bahagi:1-Kekal Hakiki, yaitu Zat dan sifat Allah Ta’ala.2-Kekal Ardi, yaitu kekal yang dikekalkan, menerima hukum binasa jikalau dibinasakan Allah Ta’ala, karena ia sebagian daripada mumkin, tetapi tiada dibinasakan maka kekallah ia, maka kekalnya itu dinamakan kekal ‘Ardi, seperti ruh, arasy, kursi, kalam, lauh mahfudh, surga, neraka, bidadari dan telaga nabi.

3-MUKHALAFATUHULILKHAWADITS artinya Bersalahan Allah Ta’ala dengan segala yang baharu.Adapun Hakikat Mukhalafatuhulilhawadits itu diibaratkan menafikan Zat dan Sifat dan Af’al Allah Ta’ala dengan segala sesuatu yang baharu yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu, lawannya Mumassalatuhulilhawadits, artinya bersamaan dengan segala sesuatu yang baharu yakni tiada bersamaan dengan segala yang baharu yaitu tiada diterima oleh aqal dikatakan Allah Ta’ala itu bersamaan dzat-Nya dan sifat-Nya dan af’al-Nya dengan segala yang baharu karena jikalau bersamaan dengan segala yang baharu maka tiadalah Dia bersifat Qadim dan Baqa’, sekarang telah terdahulu wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Qadim dan Baqa’ maka menerimalah akal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Mukhalafatuhulilhawadits, dan mustahil lawannya Mumasalatu lilhawadits, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: laisa kamislihi sai’in wahuwassami’ul bashir, artinya tiada seumpama Allah Ta’ala dengan segala sesuatu dan Dia mendengar dan melihat. Adapun bersalahan Zat Allah Ta’ala dengan Zat yang baharu karena Zat Allah Ta’ala bukan jirim atau jisim dan bukan jauhar atau ‘ardi dan tiada dapat dijadikan dan tiada bertempat atau jihat dan tiada bermasa atau dikandung masa dan tiada beranak atau diperanakkan.Bersalahan sifat Allah Ta’ala dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Ta’ala Qadim dan aum ta’luqnya seperti Sami’ Allah Ta’ala ta’luq pada segala yang mawujud. Adapun sifat yang baharu itu tiada Qadim dan tiada aum ta’luqnya tetapi takluk pada setengah perkara jua seperti yang baharu mendengar Dia pada yang berhuruf dan bersuara dan yang tiada berhuruf dan bersuara tiada Dia mendengar atau yang jauh atau yang tersembunyi seperti gerak-gerak yang dalam hati dan begitu jua sifat-sifat yang lain tiada serupa dengan sifat Allah Ta’ala. Adapun bersalahan perbuatan Allah Ta’ala dengan perbuatan yang baharu karena perbuatan Allah Ta’ala itu memberi bekas dan tiada dengan alat perkakas dan tiada dengan minta tolong dan tiada mengambil faedah dan tiada yang sia-sia. Adapun perbuatan yang baharu tiada memberi bekas dan dengan alat perkakas atau dengan minta tolong dan mengambil faedah.

4-QIYAMUHU BINAFSIHI, artinya Berdiri Allah Ta’ala dengan sendirinya. Adapun hakikat Qiyamuhu binafsihi itu ibarat daripada menafikan berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan Dia, yakni tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan tiada berdiri dengan sendirinya, karena Dia Zat bukan Sifat jikalau Dia sifat berkehendak kepada tempat berdiri karena sifat itu tiada boleh berdiri dengan sendirinya dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia karena Dia Qadim. Jikalau berkehendak Dia kepada yang menjadikan Dia maka jadilah Dia baharu, apabila Dia baharu tiadalah Dia bersifat Qadim dan Baqa’ dan Mukhalafatuhulilhawadits, sekarang menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Qiyamuhubinafsihi dan mustahil lawannya Allayakunu ko’iman binafsihi, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: -Innallaha laghaniyyun ‘anil ‘alamiin-, artinya Allah Ta’ala itu terkaya daripada sekalian alam. Adapun segala yang Mawujud yang berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan Dia itu empat bahagi:1-Tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia dan tiada berkehendak kepada tempat berdiri yaitu Zat Allah Ta’ala. 2-Berdiri pada Zat Allah Ta’ala dan tiada berkehendak kepada yang menjadikan Dia yaitu sifat Allah Ta’ala. 3-Tiada berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala jirim yang baharu. 4-Berkehendak kepada tempat berdiri dan berkehendak kepada yang menjadikan dia yaitu segala ‘arad (sifat dan keadaan) yang baharu.

5-WAHDANIAH, artinya Esa. Adapun hakikat Wahdaniah itu ibarat menafikan kammuttasil dan kammumfasil pada Zat, pada Sifat dan pada Af’al. Kammuttasil artinya berbilang-bilang atau bersusun-susun atau berhubung-hubung. Kammumfasil artinya bercerai-cerai banyak yang serupa. Lawannya Ayyakunu wahidan, artinya tiada Dia esa yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan tiada Dia Esa, karena jikalau tiada Dia Esa tiadalah ada alam ini karena banyak yang memberi bekas seperti dikatakan ada dua atau tiga tuhan seperti kata tuhan yang satu keluarkan matahari dari barat dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari timur dan kata tuhan yang satu lagi keluarkan dari utara atau selatan maka kesudahannya matahari itu tiada keluar, karena tiga yang memberi bekas tentu kalau tuhan yang satu itu mengeluarkan matahari itu dengan sekehendakknya, umpamanya disebelah barat tentu pula tuhan yang lain menidakkannya menurut kehendaknya umpamanya disebelah timur atau utara atau selatan karena tiga-tiga tuhan itu berkuasa maka sekarang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana keadaan atau perjalanan didalam alam ini semuanya teratur dengan baiknya maka menerimalah aqal kita wajib Wahdaniah bagi Allah Ta’ala dan mustahil lawannya berbilang-bilang atau bercerai-cerai. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: Qulhuwallahu ahad, artinya katakanlah oleh mu (Muhammad) Allah Ta’ala itu Esa, yakni Esa Zat dan Esa sifat dan Esa Af’al. Adapun Wahdaniah itu pada Zat menafikan dua perkara:1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun seperti dikatakan Zat Allah Ta’ala itu berdarah berdaging dan bertulang urat atau dikatakan Zat Allah Ta’ala itu kejadian daripada anasir yang empat. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa dikatakan ada zat yang lain seperti Zat Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu, maka Kammuttasil dan Kammumfasil itulah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua perkara ini maka barulah dikatakan Ahadiyyatullizzati, yakni Esa Zat Allah Ta’ala. Adapun Wahdaniah pada sifat itu menafikan dua perkara: 1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berbilang-bilang atau bersusun-susun sifat seperti dikatakan ada pada Allah Ta’ala dua Qudrat atau dua Ilmu atau dua Sami’ yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu berbilang-bilang sifat Allah Ta’ala. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak yang sebangsa atau serupa seperti dikatakan ada Qudrat yang lain atau Ilmu yang lain seperti Qudrat dan Ilmu Allah Ta’ala maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua itu maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatussifati, yakni Esa sifat Allah Ta’ala…

Adapun Wahdaniah pada Af’al itu menafikan dua perkara: 1-Menafikan Kammuttasil, yaitu menafikan berhubung atau minta tolong memperbuat suatu perbuatan seperti dikatakan Allah Ta’ala jadikan kuat pada nasi mengenyangkan dan kuat pada air menghilangkan dahaga dan kuat pada api membakar dan kuat pada tajam memutuskan, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu perbuatan Allah Ta’ala. 2-Menafikan Kammumfasil, yaitu menafikan bercerai-cerai banyak perbuatan yang memberi bekas seperti dikatakan ada perbuatan yang lain memberi bekas seperti perbuatan Allah Ta’ala, yakni tiada sekali-kali seperti yang demikian itu, maka Kammuttasil dan Kammumfasil inilah yang hendak kita nafikan. Apabila sudah kita nafikan yang dua ini maka baharulah kita dikatakan Ahadiyyatull Af’alu, yakni Esa perbuatan Allah Ta’ala.

Bahagian yang ketiga sifat Ma’ani. Adapun hakikat sifat Ma’ani itu: wahiya kullu sifatu mawujuudatun qo’imatun bimawujuudatun aujabatlahu hukman, artinya tiap-tiap sifat yang berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka mewajibkan suatu hukum yaitu Ma’nawiyah. Sifat ini merupakan sifat yang didapat daripada menyaksikan bekas sifat Allah Ta’ala pada diri. Dan membandingkan dengan kenyataan (‘Ain) antara yang ada pada diri yang mustahil tidak ada pada Allah Ta’ala dengan Sifat Allah Ta’ala yang diluruskan (DISUCIKAN) dengan sifat Salbiyah pada Ketuhanan, yakni yang menafikan sesuatu yang tidak patut dan tidak layak berdiri pada SifatNya

1-QUDRAT artinya Kuasa. Adapun hakikat Qudrat itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi azali yang tsabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia mengadakan dan meniadakan bagi segala mumkin muafakat dengan Iradat-Nya. Adapun arti mumkin itu barang yang harus (Ja’iz) adanya atau tiadanya. Adapun mumkin itu empat bahagi: 1-Mumkin Maujuudu ba’dal ‘adum yaitu mumkin yang pada masa sekarang, dahulu tiada, seperti langit dan bumi dan kita semuanya.2-Mumkin Ma’dum ba’dal wujuud, yaitu mumkin yang tiada pada masa sekarang ini dahulunya ada, seperti nabi Adam as, dan datok-datok nenek kita nenek yang sudah tiada. 3-Mumkin syayuzadu, yaitu mumkin yang akan datang seperti hari kiamat, syurga dan neraka. 4-Mumkin Ilmu Allah annahulamyuujadu, yaitu mumkin yang didalam Ilmu Allah Ta’ala tetapi tiada dijadikan seperti hujan emas dan perak dan banyak yang lain lagi. Lawannya ‘ujzun artinya lemah yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan Allah Ta’ala itu lemah karena jikalau Dia lemah niscaya tiadalah ada alam ini karena yang lemah itu tiada dapat memperbuat suatu perbuatan maka sekarang alam ini telah nyata adanya bagaimana yang kita lihat sekarang ini maka menerimalah aqal kita wajib bagi-Nya bersifat Qudrat dan mustahil lawannya ‘Ujzun. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu ‘ala kulli sai’inqodir, artinya Allah Ta’ala itu berkuasa atas tiap-tiap sesuatu. Maka Qudrat Allah Ta’ala itu Qidam, Qudrat Allah Ta’ala itu Baqa’, Qudrat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Qudrat Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Qudrat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah.

3-ILMU artinya Mengetahui. Adapun hakikat Ilmu itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi Azali yang tsabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka dengan Dia Mengetahui pada yang wajib, pada yang mustahil, dan pada yang harus. Adapun yang wajib itu Zat dan Sifat maka mengetahui Dia ZatNya dan SifatNya yang Kamalat. Adapun yang mustahil itu yaitu yang menyengutui ketuhanannya atau yang kekurangan baginya maka mengetahui Dia tiada yang menyengutui bagi ketuhanan-Nya dan yang kekurangan pada-Nya. Adapun yang harus itu sekalian alam ini, maka mengetahui Dia segala perkara yang ada pada masa sekarang ini dan segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi dan tiada terdinding yang dalam Ilmu-Nya sebesar jarah jua pun semuanya diketahui-Nya dengan Ilmu-Nya yang Qadim. Lawannya Jahil, artinya bodoh, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia Jahil atau bodoh karena jikalau Dia Jahil atau bodoh niscaya tiadalah teratur atau tersusun segala pekerjaan didalam alam ini maka sekarang alam ini telah teratur dan tersusun dengan baiknya, maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Ilmu dan mustahil lawannya Jahil atau bodoh. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu bikulli syai’in ‘alimun, artinya Allah Ta’ala mengetahui tiap-tiap sesuatu. Maka Ilmu Allah Ta’ala itu Qidam, Ilmu Allah Ta’ala itu Baqa’, Ilmu Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Ilmu Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Ilmu Allah Ta’ala itu Wahdaniyah.

4-HAYAT, artinya Hidup. Adapun hakikat Hayat itu satu sifat yang Qadim lagi Azali yang tsabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka dengan Dia zohirlah sifat yang lain-lain. Lawannya maut artinya mati, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia mati karena jikalau Dia mati niscaya tiadalah ada sifat yang lain seperti Qudrat, Iradat dan Ilmu. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat hayat dan mustahil lawannya maut. Adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: huwal hayyulazii layamuutu, artinya Dia yang Hidup yang tiada mati. Maka Hayat Allah Ta’ala itu Qidam, Hayat Allah Ta’ala itu Baqa’, Hayat Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Hayat Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Hayat Allah Ta’ala itu Wahdaniyah.

5-SAMI’ artinya Mendengar. Adapun hakikat Sami’ itu yaitu satu sifat yang Qadim lagi Azali yang tsabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka dengan Dia mendengar segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qadim atau Muhadas. Adapun mawujud yang Qadim yaitu Zat dan Sifat-Nya, maka mendengar Dia akan Kalam-Nya yang tiada berhuruf dan bersuara dan yang muhadats yaitu sekalian alam ini maka mendengar Dia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini dan segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang akan diadakan lagi, maka tiada terdinding pendengarannya oleh sebab jauh atau tersembunyi. Lawannya Somam, artinya pekak atau tuli yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia pekak atau tuli karena jikalau Dia pekak atau tuli niscaya tiadalah dapat Dia memperkenankan seruan makhluk-Nya padahal Menyuruh Dia kepada sekalian makhluk-Nya dengan meminta seperti firman-Nya dalam Al Qur’an: ud’unii astajiblakum, artinya mintalah oleh mu kepada Aku niscaya Aku perkenankan. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala bersifat Sami’ dan mustahil lawannya Somam, pekak atau tuli, adapun dalilnya firman-Nya dalam Al Qur’an: wallahu sami’un ‘alimun, artinya Allah Ta’ala itu yang mendengar dan yang mengetahui. Maka Sami’ Allah Ta’ala itu Qidam, Sami’ Allah Ta’ala itu Baqa’, Sami’ Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Sami’ Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Sami’ Allah Ta’ala itu Wahdaniyah.

6-BASHIR, artinya Melihat. Adapun hakikat Bashir itu satu sifat yang Qadim lagi Azali yang syabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala maka dengan Dia melihat segala yang mawujud sama ada yang mawujud itu Qodim atau muhadas. Adapun mawujud yang Qodim itu Zat dan sifat-Nya, maka melihat Dia akan Zat-Nya yang tiada berupa dan berwarna dan sifat-Nya yang kamalat. Adapun mawujud yang muhadas itu sekalian alam ini maka melihat Dia akan segala perkara yang ada pada masa sekarang ini dan segala perkara yang sudah tiada dan segala perkara yang lagi akan diadakan. Tiada terdinding yang pada penglihatan-Nya oleh sebab jauh atau sangat halusnya atau sangat kelamnya. Lawannya ‘Umyun, artinya buta yaitu mustahil tiada diterima oleh akal sekali-kali dikatakan Dia buta karena jikalau Dia buta maka jadilah Dia kekurangan. Maka menerimalah akal kita wajib bagi Allah Ta’’la itu bersifat Bashir dan mustahil lawannya ‘Umyun atau buta , Adapun dalilnya firman-Nya dalam AL Qur’an: wallahu basirun bimaa ta’maluun, artinya Allah Ta’ala itu melihat apa yang kamu kerjakan. Maka Bashir Allah Ta’ala itu Qidam, Bashir Allah Ta’ala itu Baqa’, Bashir Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Bashir Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Bashir Allah Ta’ala itu Wahdaniyah

7-KALAM, artinya Berkata-kata. Adapun hakikat Kalam itu satu sifat yang Qadim lagi Azali yang syabit berdiri pada Zat Allah Ta’ala, maka dengan Dia berkata-kata pada yang wajib seperti firman-Nya: fa’lam annahu laa ilaha illalah, artinya ketahui oleh mu bahwasanya tiada Tuhan melainkan Allah, dan berkata-kata pada yang mustahil dengan firman-Nya: laukana fiihima alihatun illallah lafasadatu, artinya jikalau ada tuhan yang lain selain daripada Allah maka binasalah segala-galanya, dan berkata pada yang harus dengan firman-Nya: wallahu kholaqokum wamaa ta’maluna, artinya Allah Ta’ala jua Yang menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu. Lawannya Bukmum, artinya kelu atau bisu yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali dikatakan Dia bisu atau kelu karena jikalau Dia bisu atau Kelu tiadalah dapat Dia menyuruh atau mencegah dan menceritakan segala perkara seperti hari kiamat, syurga, neraka dan lain-lain. Maka sekarang suruh dan cegah itu ada pada kita seperti suruh kita sembahyang dan cegah kita berbuat ma’siat. Maka menerimalah aqal kita wajib bagi Allah Ta’ala itu bersifat Kalam dan mustahil lawannya bukmum, kelu atau bisu. Adapun dalilnya friman-Nya dalam Al Qur’an: wakallama llaahu muusa taqlimaan, artinya berkata-kata Allah Ta’ala dengan nabi Musa as dengan sempurna kata. Adapun Kalam Allah Ta’ala itu satu sifat jua tiada Dia berbilang tetapi berbagi-bagi dipandang dari segi perkara yang dikatakan-Nya apabila Dia menunjukkan kepada suruh maka dinamakan amar seperti suruh sembahyang dan puasa dan lain-lain jika Dia menunjukkannya kepada cegah atau larangan maka dinamakan nahi seperti cegah berjudi., minum arak dan lain-lain jika Dia menunjukkan pada cerita dinamakan akhbar, seperti cerita raja Fir’aun , Namrudz, dan lain-lain. Jika Dia menunjukkan pada khabar gembira dinamakan Wa’ad seperti balas syurga pada orang beriman dan ta’at dan lian-lain. Jika Dia menunjukkan pada khabar menakutkan maka dinamakan Wa’id, seperti janji balas neraka dan azab bagi orang yang berbuat maksiat dan kafir. Maka Kalam Allah Ta’ala itu Qidam, Kalam Allah Ta’ala itu Baqa’, Kalam Allah Ta’ala itu Mukhalafatuhu lil hawadits, Kalam Allah Ta’ala itu Qiyamu bizzatihi dan Kalam Allah Ta’ala itu Wahdaniyah.

Bahagian keempat Sifat Ma’nawiyah. Adapun hakikat sifat ma’nawiyah itu: hiyalhalul wajibatu lizati maadaamati lizati mu’allalati bi’illati, artinya hal yang wajib bagi Zat selama ada Zat itu dikarenakan suatu karena yaitu Ma’ani, umpama berdiri sifat Qudrat pada Zat maka baharu dinamakan Zat itu Qadirun, artinya Yang Kuasa, Qudrat sifat Ma’ani, Qadirun sifat Ma’nawiah maka berlazim-lazim antara sifat Ma’ani dengan sifat Ma’nawiah, tiada boleh bercerai yaitu tujuh sifat pula. 1-QADIRUN, artinya Yang Kuasa, melajimkan Qudrat berdiri pada Zat. 2-MURIIDUN, artinya Yang Menentukan maka melajimkan Iradat yang berdiri pada Zat. 3-‘ALIMUN, artinya Yang Mengetahui maka melajimkan Ilmu yang berdiri pada Zat. 4-HAYYUN, artinya Yang Hidup melajimkan Hayyat yang berdiri pada Zat. 5-SAMI’UN, artinya Yang Mendengar melajimkan Sami’ yang berdiri pada Zat. 6-BASHIRUN, artinya Yang Melihat melajimkan Bashir yang berdiri pada Zat. 7-MUTTAKALLIMUN, artinya Yang berkata-kata melajimkan Kalam yang berdiri pada Zat

Inilah Sifat-sifat Ketuhanan yang meliputi Sifat Allah Yang Esa, Kemudian dibagi pada dua bahagi untuk melazimkan tempat pada Nafi dan Isbat: 1-Sifat ISTIGHNA, yaitu sifat Kaya: mustaghniyun ’angkullumaasiwahu, artinya Kaya Allah Ta’ala itu daripada tiap-tiap yang lainya. Apabila dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sebelas (11) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sebelas (11) sifat itu maka tiadalah dapat dikatakan Kaya Allah Ta’ala daripada tiap-tiap yang lainnya. Adapun sifat wajib yang 11 itu ialah: 1-Wujud. 2-Qidam. 3-Baqa’. 4-Mukhalafatuhulilkhawadits. 5-Qiyamuhubinafsihi. 6-Sami’. 7-Bashir. 8-Kalam. 9-Sami’un. 10-Bashirun. 11-Muttakalimun. Selain sebelas (11) sifat yang wajib itu ada tiga (3) sifat yang harus lagi yang termasuk pada sifat Istighna yaitu: 1-Mahasuci dari pada mengambil faedah pada perbuatan-Nya atau pada hukum-Nya, lawannya mengambil faedah, yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau mengambil faedah tiadalah Kaya Dia daripada tiap-tiap yang lainnya karena lazim diwaktu itu berkehendak Dia pada menghasilkan hajat-Nya. 2-Tiada wajib Dia menjadikan alam ini. Lawannya wajib yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau wajib Dia menjadikan alam ini tiadalah Dia Kaya daripada tiap-tiap yang lainnya, karena lajim diwaktu itu berkehendak Dia kepada yang menyempurnakan-Nya. 3-Tiada memberi bekas suatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi sesuatu daripada kainat-Nya dengan kuatnya tiadalah Kaya Dia pada tiap-tiap yang lainnya karena lajim diwaktu itu berkehendak Dia mengadakan sesuatu dengan wastoh. 2-Sifat IFTIQAR, artinya sifat berkehendak: wamuftaqirun ilaihi kullu ma’adaahu, artinya berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya. Apabila dikatakan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya maka wajib bagi-Nya bersifat dengan sembilan (9) sifat, jikalau kurang salah satu daripada sembilan (9) sifat ini maka tiadalah dapat berkehendak tiap-tiap yang lainya kepada-Nya, Adapun sifat wajib yang sembilan (9) itu adalah: 1-Qudrat. 2-Iradat. 3-Ilmu. 4-Hayat. 5-Qodirun. 6-Muridun. 7-‘Alimun. 8-Hayyun. 9-Wahdaniah. Selain dari sembilan (9) sifat yang wajib itu ada dua (2) sifat yang harus termasuk pada sifat Iftiqar. 1-Baharu sekalian alam ini. Lawannya Qodim yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau alam ini Qodim tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lainnya kepada-Nya karena lajim ketika itu bersamaan derejat-Nya. 2-Tiada memberi bekas sesuatu daripada kainat-Nya dengan tobi’at atau Zat-Nya. Lawannya memberi bekas yaitu mustahil tiada diterima oleh aqal sekali-kali karena jikalau memberi bekas sesuatu daripada kainat dengan tobi’at niscaya tiadalah berkehendak tiap-tiap yang lain kepada-Nya karena lajim ketika itu terkaya sesuatu daripadanya.

Maka sekarang telah nyata pada kita bahwa duapuluh delapan (28) sifat Istighna dan duapuluh dua (22) sifat Ifthikhar maka jumlahnya jadi limapuluh (50) Aqa’id yang terkandung didalam kalimah lailahaillallah, maka jadilah makna hakikat lailahaillallah itu dua: lamustaghniyun angkullumaasiwahu, artinya tiada yang kaya dari tiap-tiap yang lainnya dan wamustaghqirunilaihi kullu ma’adahu, artinya dan berkehendak tiap-tiap yang lain kepada nya ini makna yang pertama maka daripada makna yang dua itu maka jadi empat (4): 1-Wajibal wujud, yaitu yang wajib adanya. 2-Ishiqoqul ibadah, yaitu yang mustahak bagi-Nya ibadah. 3-Kholiqul alam, yaitu yang menjadikan sekalian alam. 4-Maghbudun bihaqqi, yaitu yang disembah dengan sebenar-benarnya. Ini makna yang kedua maka daripada makna yang empat (4) itu jadi satu (1) yaitu: Lailahailallah: lama’budun ilallah, artinya tiada tuhan yang disembah dengan sebenarnya melainkan Allah. Ini makna yang ketiga penghabisan maka jadilah kalimah Laa ilaha ilallah itu menghimpun nafi dan isbat. Adapun yang dinafikan itu sifat Istighna’ dan sifat Iftiqar berdiri pada yang lain dengan mengatakan: Laa ilaha dan diisbatkan sifat Istighna’ dan sifat Iftiqar itu berdiri pada Zat Allah Ta’ala dengan mengatakan kalimah Illallah. Laa = nafi, Illaha=menafi, ila=isbat, Allah=mengisbat. Yang kedua kalimah laa ilaha illallah itu nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi sepeti sabda nabi : laa yufarriqubainannafi wal isbati wamamfarroqu bainahumaa fahuwa kaafirun, artinya: -Tiada bercerai antara nafi dan isbat dan barang siapa menceraikan kafir- seperti asap dengan api. Asap itu bukan api dan asap itu tidak lain daripada api. Asap tetap asap dan api tetap api: tetapi asap itu menunjukkan ada api inilah artinya nafi mengandung isbat dan isbat mengandung nafi. Tiada bercerai dan tiada bersekutu.